Home » , , , , , , , , , , , » Tiada Hidup Tanpa Pengorbanan (Edisi Rihlah Season 1 Etam 2012)

Tiada Hidup Tanpa Pengorbanan (Edisi Rihlah Season 1 Etam 2012)

Written By Unknown on Jumat, 09 Januari 2015 | 16.13

Bismillahirrahmanirrahim,

Dua tahun sudah ku tinggalkan pantai Padang dan berlabuh di Tepian Mahakam. Setahun juga kami merencanakan rihlah angkatan, dan baru tahun ini rihlah itu terealisasi. Tepatnya di pembuka tahun 2015. Halangan dan rintangan kami lalui dengan kegalauan, amarah, kekecewaan, pahit manis semuanya terjadi hingga hari itu tiba menghampiri dan memberikan setitik kebahagian dan senyuman pengobat luka di hati. Canda, tawa, bahkan air mata mengalir tanpa kabar berita. Siapa yang tahu air mata suka atau duka yang turun. Perjalanan anak ayam tanpa induk itu lah yang saya rasakan, dan kami terus berjalan dan tidak akan kembali sebelum kami melihat akhir dari penundaan yang Allah rencanakan ini.

Ternyata perjalanan ke Sebulu itu tak semudah yang ku bayangkan. Jalannya bak mendaki bukit, menuruni lembah dan berbelok menghadang jurang nan tajam. Ini kali pertamanya  saya melakukan perjalanan yang lumayan jauh dengan sepeda motor tanpa restu dari orang tua. Syukurnya saya masih selamat, hehe... Perjalanan ini sungguh sangat melelahkan. Separuh perjalanan pundak ini seakan bercerai dari empunya. Bagaimana tidak si motor jagoanku ternyata sedang tidak bersahabat karena saya lupa  kalau remnya lagi mandat dan tak berfungsi dengan baik. Akan tetapi perjalanan ini akan sangat menyenangkan karena ini adalah rencana-Nya .

Setelah lelah bermain dengan daratan kami beralih ke perairan. Kami menyeberangi danau oh tidak, lebih tepatnya sungai dengan sebuah perahu atau apalah namanya yang dijalankan dengan mesin. Isinya ya sekitar sepuluh motor disertai dengan para penumpang yang mengendarai motor tersebut. Jasa ini cukup membantu dan sedikit menghibur. Ini mengingatkan saya pada perjalanan Merak-Bekahauni setahun yang lalu. Sungguh masa yang sulit yang harus dilewati seorang diri, tapi teman saya percaya bahwa saya adalah wanita strong.

Kepercayaan itu menguatkan saya bahwa saya bisa dan mampu mengendarai motor ini mendaki bukit dan menuruni lembah dengan seorang teman di belakang saya. Harusnya saya yang kecil ini lah yang  duduk di belakang, tapi Allah berkata lain. Saya yakin perkataan dari teman itu adalah pesan yang ingin Allah sampaikan. Sedikit kesel tapi ya seperti biasa ini akan saya simpan di alam bawah sadar saya.

Tak cukup sekali kami melakukan penyeberangan, tapi dua kali, setelah itu melewati jalan bebatuan , masuk gang keluar gang hingga sebuah Langgar kami jumpai dan kami parkirlah si jagoan yang telah bekerja keras di Langgar tersebut. Hati saya bertanya – tanya dimana kah gerangan rumah yang hendak kami singgahi? Tanpa saya sadari sebuah rumah kayu telah terbuka mempersilahkan tamunya untuk menghampirinya. Subhanallah, benar – benar di luar dugaan, rasa rindu akan rumah gadang pun memenuhi otak saya, “Aku ingin pulang” hanya itu yang mampu diolah oleh akal saya. Kami makan dengan makanan yang telah disediakan. Sungguh penyambutan yang luar biasa. Bukan makanannya tapi sikap dan kehangatan keluarga itu benar – benar sangat mahal di zaman yang serba instan seperti sekarang ini. “Nikmat yang mana lagi yang akan ku dustai?”.

Ada penyesalan dan rasa bersalah karena ternyata hari dimana kami menunda keberangkatan dengan alasan tidak ada uang, tuan rumah ini ternyata telah melakukan persiapan. Hal itu terucap oleh tuan rumah di sela senda guraunya. Sebelum pulang pun kami disuguhi kelapa muda,  wah kerongkongan ini sudah memanggil – manggil agar air kelapa muda itu segera mendarat membasahi kerongkongan ini. Ya saya sangat menyukai air kelapa muda. “Engkau tidak akan pernah tahu nikmatnya air kelapa muda itu sebelum dia mengalir di kerongkongganmu.”

Setelah itu kami mengunjungi sebuah rumah yang salah seorang penghuninya ternyata adalah pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus. Sepertinya ada yang kebakar semangatnya setelah melakukan komunikasi yang sangat singkat itu. Ya semoga saja itu dapat dicapai oleh mereka yang menginginkannya dan bersungguh – sungguh mempelajarinya. Yakni bias fasih berbahasa Inggris!

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan rasa capek yang tak tertahankan. Kami menyeberang lagi untuk dapat melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan. Ternyata untuk sampai pada suatu tempat yang kami inginkan kami masih harus melewati banyak tikungan dan menyeberangi sungai Mahakam yang luas itu. Bahkan jika di jalur itu ada ombak yang bergulung, tebing yang curam pasti akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Ternyata kekuatan ini yang mungkin disebut dengan cinta.  Tanpa cinta tak ada pengorbanan karena cinta butuh pengorbanan.

Dalam perjalanan saya menjumpai buah – buahan yang sudah lama ingin saya makan. Durian. Ya, buah itu adalah durian. Tapi ternyata duriannya tidak selezat yang pernah saya makan di sekolah dulu. Abaikan durian. Sekarang saya dan teman – teman telah berada di Museum. Ada yang berubah di tahun ini, lima tahun yang lalu dia masih seorang anak rumahan yang sangat penurut. Ke manapun ia melangkah selalu didampingi orang tua atau keluarganya. Sekarang dia adalah mahasiswa keluyuran dengan teman – temannya, pergi kemanapun kakinya hendak melangkah, hanya maaf yang mampu ia ucap jika ditanyai orang tuanya.

Kami ke Museum dan Planetarium Tenggarong. Di planetarium saya menikmati tidur ditemani oleh bintang di langit Planetarium. Saya baru sadar hal seperti ini pernah terjadi ketika pemula saya di Samarinda. Di atas atap sebuah rumah beralamat di Pramuka 2 A No. 65  itulah saya pernah menikmatinya. Sungguh aneh jika ada yang mengatakan mereka buta dalam kegelapan malam, padahal hanya dalam gelapnya malam ia dapat melihat bintang dengan jelas. Sungguh ini pertanda bahwa apa yang Allah ciptakan itu tak ada yang sia- sia. Meski saya tidak menyaksikan pertunjukan itu hingga akhir tapi saya tidak menyesal karena tertidur. Mungkin ada teman yang menyalahkan saya karena telah menyia – nyiakan kesempatan itu dan membuang uang hanya untuk tidur, saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya betapa lelahnya tubuh kecil ini harus mengendarai motor dan memboncengi temannya pulang pergi tanpa istirahat. Ya hanya Allah yang tahu dan Allah lah yang telah membuatku tertidur.

Setelah dari Planetarium kami menuju Samarinda dan makan di salah satu warung di Jalan Perjuangan lalu kembali ke asrama masing –masing.

Sekarang saya semakin yakin akan cinta Allah pada hamba – hamba Nya. Perjalanan ini akan menjadi potongan sejarah seorang petualang yang akan selalu mengepakkan sayapnya sekalipun sayap itu akan melemah dari tahun ke tahun. Ini adalah salah satu penggalan kisah ku di kota Tepian Sungai Mahakam, Samarinda, bersama Etoser Samarinda. Namun, akan kah kisah selanjutnya berlabuh di Sungai Nil? ….

"Tiada Pengorbanan untuk Hidup Melainkan karena Cinta"

Oleh Fauziyah Nurhidayati. Etoser Samarinda Angkatan 2012. Mahasiswi Pendidikan Bimbingan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman.


Share this article :
 
Support : Dhompet Dhuafa | ETOS SAMARINDA | Hickmat Creative
Copyright © 2014. ETOS SAMARINDA - All Rights Reserved
Site Created by Hickmat Published by ETOSER SAMARINDA
Proudly powered by Blogger