Bismillahirrahmanirrahim,
Dua tahun sudah ku tinggalkan pantai Padang dan berlabuh di Tepian Mahakam.
Setahun juga kami merencanakan rihlah angkatan, dan baru tahun ini rihlah itu
terealisasi. Tepatnya di pembuka tahun 2015. Halangan dan rintangan kami lalui
dengan kegalauan, amarah, kekecewaan, pahit manis semuanya terjadi hingga hari
itu tiba menghampiri dan memberikan setitik kebahagian dan senyuman pengobat
luka di hati. Canda, tawa, bahkan air mata mengalir tanpa kabar berita. Siapa
yang tahu air mata suka atau duka yang turun. Perjalanan anak ayam tanpa induk
itu lah yang saya rasakan, dan kami terus berjalan dan tidak akan kembali
sebelum kami melihat akhir dari penundaan yang Allah rencanakan ini.
Ternyata perjalanan ke Sebulu itu tak semudah yang ku bayangkan. Jalannya
bak mendaki bukit, menuruni lembah dan berbelok menghadang jurang nan tajam. Ini
kali pertamanya saya melakukan
perjalanan yang lumayan jauh dengan sepeda motor tanpa restu dari orang tua. Syukurnya
saya masih selamat, hehe... Perjalanan ini sungguh sangat melelahkan. Separuh
perjalanan pundak ini seakan bercerai dari empunya. Bagaimana tidak si motor jagoanku
ternyata sedang tidak bersahabat karena saya lupa kalau remnya lagi mandat dan tak berfungsi
dengan baik. Akan tetapi perjalanan ini akan sangat menyenangkan karena ini
adalah rencana-Nya .
Setelah lelah bermain dengan daratan kami beralih ke perairan. Kami
menyeberangi danau oh tidak, lebih tepatnya sungai dengan sebuah perahu atau
apalah namanya yang dijalankan dengan mesin. Isinya ya sekitar sepuluh motor
disertai dengan para penumpang yang mengendarai motor tersebut. Jasa ini cukup
membantu dan sedikit menghibur. Ini mengingatkan saya pada perjalanan Merak-Bekahauni
setahun yang lalu. Sungguh masa yang sulit yang harus dilewati seorang diri,
tapi teman saya percaya bahwa saya adalah wanita strong.
Kepercayaan itu menguatkan saya bahwa saya bisa dan mampu mengendarai
motor ini mendaki bukit dan menuruni lembah dengan seorang teman di belakang
saya. Harusnya saya yang kecil ini lah yang
duduk di belakang, tapi Allah berkata lain. Saya yakin perkataan dari
teman itu adalah pesan yang ingin Allah sampaikan. Sedikit kesel tapi ya seperti
biasa ini akan saya simpan di alam bawah sadar saya.
Tak cukup sekali kami melakukan penyeberangan, tapi dua kali, setelah itu
melewati jalan bebatuan , masuk gang keluar gang hingga sebuah Langgar kami
jumpai dan kami parkirlah si jagoan yang telah bekerja keras di Langgar
tersebut. Hati saya bertanya – tanya dimana kah gerangan rumah yang hendak kami singgahi? Tanpa saya sadari sebuah rumah kayu telah
terbuka mempersilahkan tamunya untuk menghampirinya. Subhanallah, benar – benar
di luar dugaan, rasa rindu akan rumah gadang pun memenuhi otak saya, “Aku ingin
pulang” hanya itu yang mampu diolah oleh akal saya. Kami makan dengan makanan
yang telah disediakan. Sungguh penyambutan yang luar biasa. Bukan makanannya
tapi sikap dan kehangatan keluarga itu benar – benar sangat mahal di zaman yang
serba instan seperti sekarang ini. “Nikmat
yang mana lagi yang akan ku dustai?”.
Ada penyesalan dan rasa bersalah
karena ternyata hari dimana kami menunda keberangkatan dengan alasan tidak ada
uang, tuan rumah ini ternyata telah melakukan persiapan. Hal itu terucap oleh
tuan rumah di sela senda guraunya. Sebelum pulang pun kami disuguhi kelapa
muda, wah kerongkongan ini sudah
memanggil – manggil agar air kelapa muda itu segera mendarat membasahi kerongkongan
ini. Ya saya sangat menyukai air kelapa muda. “Engkau tidak akan pernah tahu
nikmatnya air kelapa muda itu sebelum dia mengalir di kerongkongganmu.”
Setelah itu kami mengunjungi sebuah rumah yang salah seorang penghuninya
ternyata adalah pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus. Sepertinya
ada yang kebakar semangatnya setelah melakukan komunikasi yang sangat singkat
itu. Ya semoga saja itu dapat dicapai oleh mereka yang menginginkannya dan
bersungguh – sungguh mempelajarinya. Yakni bias fasih berbahasa Inggris!
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan rasa capek yang tak
tertahankan. Kami menyeberang lagi untuk dapat melanjutkan perjalanan hingga
sampai tujuan. Ternyata untuk sampai pada suatu tempat yang kami inginkan kami masih
harus melewati banyak tikungan dan menyeberangi sungai Mahakam yang luas itu. Bahkan
jika di jalur itu ada ombak yang bergulung, tebing yang curam pasti akan
ditempuh untuk mencapai tujuan. Ternyata kekuatan ini yang mungkin disebut
dengan cinta. Tanpa cinta tak ada
pengorbanan karena cinta butuh pengorbanan.
Dalam perjalanan saya menjumpai buah – buahan yang sudah lama ingin saya
makan. Durian. Ya, buah itu adalah durian. Tapi ternyata duriannya tidak
selezat yang pernah saya makan di sekolah dulu. Abaikan durian. Sekarang saya
dan teman – teman telah berada di Museum. Ada yang berubah di tahun ini, lima
tahun yang lalu dia masih seorang anak rumahan yang sangat penurut. Ke manapun
ia melangkah selalu didampingi orang tua atau keluarganya. Sekarang dia adalah
mahasiswa keluyuran dengan teman – temannya, pergi kemanapun kakinya hendak
melangkah, hanya maaf yang mampu ia ucap jika ditanyai orang tuanya.
Kami ke Museum dan Planetarium Tenggarong. Di planetarium saya menikmati
tidur ditemani oleh bintang di langit Planetarium. Saya baru sadar hal seperti
ini pernah terjadi ketika pemula saya di Samarinda. Di atas atap sebuah rumah beralamat
di Pramuka 2 A No. 65 itulah saya pernah
menikmatinya. Sungguh aneh jika ada yang mengatakan mereka buta dalam kegelapan
malam, padahal hanya dalam gelapnya malam ia dapat melihat bintang dengan
jelas. Sungguh ini pertanda bahwa apa yang Allah ciptakan itu tak ada yang sia-
sia. Meski saya tidak menyaksikan pertunjukan itu hingga akhir tapi saya tidak
menyesal karena tertidur. Mungkin ada teman yang menyalahkan saya karena telah
menyia – nyiakan kesempatan itu dan membuang uang hanya untuk tidur, saya tidak
tahu bagaimana menjelaskannya betapa lelahnya tubuh kecil ini harus mengendarai
motor dan memboncengi temannya pulang pergi tanpa istirahat. Ya hanya Allah
yang tahu dan Allah lah yang telah membuatku tertidur.
Setelah dari Planetarium kami menuju Samarinda dan makan di salah satu
warung di Jalan Perjuangan lalu kembali ke asrama masing –masing.
Sekarang saya semakin yakin akan cinta Allah pada hamba – hamba Nya.
Perjalanan ini akan menjadi potongan sejarah seorang petualang yang akan selalu
mengepakkan sayapnya sekalipun sayap itu akan melemah dari tahun ke tahun. Ini
adalah salah satu penggalan kisah ku di kota Tepian Sungai Mahakam, Samarinda,
bersama Etoser Samarinda. Namun, akan kah kisah selanjutnya berlabuh di Sungai
Nil? ….
"Tiada
Pengorbanan untuk Hidup Melainkan karena Cinta"
Oleh Fauziyah Nurhidayati. Etoser
Samarinda Angkatan 2012. Mahasiswi Pendidikan Bimbingan Konseling, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman.



