Home » , , , , , , , , , , » Amazing Down Trip: Rihlah Awal Tahun 2015 Part 1 (Edisi Rihlah Season 1 Etam 2012)

Amazing Down Trip: Rihlah Awal Tahun 2015 Part 1 (Edisi Rihlah Season 1 Etam 2012)

Written By Unknown on Jumat, 09 Januari 2015 | 16.20


“Assalamu’alaikum...” Kami serombongan dari angkatan 2012 Etoser Samarinda mengucap salam saat bertemu ibu Rafi’i di depan rumahnya. Rumah yang sederhana sekali dan jauh dari bayangan sebelum aku sampai di sini. Seorang perempuan yang postur badannya lebih kecil dari aku itu adalah ibu dari saudara kami Rafi’i. Awalnya dari kejauhan aku tidak percaya itu adalah ibunya. Begitu selalu kesan pertama yang aku dapat saat bertemu dengan orang tua dari teman – temanku. Aku membandingkan dengan orang tuaku. Secara fisik untuk yang pertama kalinya. Orang tuaku tampak lebih muda dan lebih kuat dibanding orang tua Rafi’i yang ku lihat saat itu. Tapi orang tua Rafi’i bertahan dalam kebersamaan dibanding orang tuaku saat ini.  Kemudian rasa tidak percayaku sirna tatkala aku memandang lekat – lekat sosok perempuan ini. Dia mirip sekali dengan Rafi’i. Sudah tentu ini memang ibunya dan tidak ada perempuan lain yang ku temui saat itu untuk kembali berprasangka bahwa perempuan yang tengah aku salami ini bukan ibunya Rafi’i. Faktanya ini memang ibunya Rafi’i. Anak dan ibu yang mirip sekali.

-------------------------------------00--------------------------------------

Hampir pukul 6 pagi, pembinaan pagi asrama kami sudah hampir selesai. Sudah membaca Al Ma’surat berjama’ah dan juga membaca buku wajib yang harus dibaca saat itu. Pukul 6 pagi di asrama akhwat Pramuka 17 Beastudi Etos Samarinda, akrab disebut asrama Marwa, beberapa akhwat angkatan 2012  yang jumlahnya ada 5 orang dan dua diantaranya yaitu aku dan Fauziah sudah dengan kostum lengkap  kami untuk bepergian hari ini. Beberapa yang lain masih bersiap – siap. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang akan aku siapkan kecuali roti dan selai yang aku beli semalam untuk aku bawa hari ini. Apalagi teman – temanku yang lain, entahlah apa saja yang mereka siapkan untuk hari ini.

Pagi itu asrama kami disibukkan dengan persiapan 5 etoser akhwat angkatan 2012. Perlu kalian tahu bahwa asrama kami ini berpenghuni 10 orang. 1 orang pendamping bernama mbak Jumi, 5 orang etoser akhwat 2012 bernama: Sanda –saya-, Fauziah, Arini, Puji, dan Widya. 4 orang etoser akhwat 2013 bernama: Maulid, Yeni, Vega dan Ayu. Kenapa semuanya akhwat yaaa? Itu karena di atas sudah dituliskan bahwa ini adalah asrama akhwat (puteri) penerima manfaat Beastudi Etos wilayah Samarinda.

Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar isi dari asrama ini dan apa itu Beastudi Etos. Karena ada cerita lain yang akan membahas itu. Poin dari cerita kali ini adalah perjalanan bagaimana saya dan teman – teman menyampaikan “Assalamu’alaikum....” di atas. Ok back to story....

Akhwat sudah siap. Lebih tepatnya aku sudah sangat siap. Dengan jaket dan tas yang sudah aku isi dengan roti, selai, juga dompet dan beberapa hal remeh  lainnya yang aku gak ingat itu apa saja. Tapi para pangeran – ehm maksudnya Etoser ikhwan 2012 yang berjumlah 4 orang – belum datang. Sambil menunggu mereka, aku pun sempat menjemur seluruh pakaian yang sudah aku cuci kemarin. Tepat pada season terakhir aku menjemur pakaianku, mereka – para pengeran itu akhirnya datang bersamaan sebanyak 4 orang. Intermezo sejenak, aku perkenalkan mereka adalah Donal, Ajijul, Aldy dan Rafi’i. Rafi’i adalah nama yang pertama kali aku sebut dalam cerita ini.

Ok lanjut. Sampai dimana kita tadi? Oh ya sampai pada para pangeran berdatangan. Setelah para pangeran datang sang koki kami Miss Fauziah langsung menyuguhkan sarapan untuk kami makan sebelum keberangkatan. Hemmm dalam hatiku berdebar, i said “ It’s gonna be our first long trip”. Setelah dag dig dug sebentar berangkatlah kami. Just info, kami  pergi bersembilan dengan kuota 4 ikhwan dan 5 akhwat. Formasi yang kami gunakan saat dalam perjalanan adalah 2, 2, 2, 1, 2. Ok biarkan aku menjelaskan formasi yang mungkin kalian tidak begitu mengerti ini. 2 yang pertama adalah 1 motor dengan penumpang Aldi dan Rafi’i. 2 yang kedua adalah 1 motor dengan penumpang Fauziah dan Arini. 2 yang ketiga adalah 1 motor dengan penumpang yaitu aku – Sanda- dan Puji, 1 pada urutan keempat adalah 1 motor dengan 1 penumpang yaitu Widya. Dan 2 yang terakhir adalah 1 motor dengan penumpang Ajijul dan Donal. See, betapa so sweetnya kami. 9 saudara kembar tapi tak mirip berjalan – jalan bersama. Saudara tua kami para pangeran bersikap melindungi kami saudara termuda para akhwat dengan berada di depan dan di belakang kami. Kami meluncur ke jalanan tanpa orang tua yang membersamai. Amazing down trip. Tujuan kami yang pertama adalah Desa Sebulu ke Rumah rafi’i dan yang kedua adalah ke Musium dan Planetarium di Tenggarong.

---------------------------------------------00-----------------------------------

Perjalanan berlangsung biasa saja. Ini bukan pertama kalinya aku melewati jalanan ini untuk pergi ke Tenggarong. Awalnya aku kira arah ke Sebulu rumah Rafi’I sama dengan Sebulu yang pernah aku tuju. Tapi setelah melewati simpang yang dulu pernah aku lewati aku yakin aku belum pernah ke daerah Sebulu yang jadi tujuan kami kali ini.

Meski biasa saja, tapi perjalanan saat itu sangat aku nikmati. Bagiku, hal yang paling menarik dalam sebuah perjalanan adalah bukan tujuan mana yang akan dituju tapi perjalanan itu sendiri, sehingga selelah apapun dalam perjalanan aku menikmati perjalanan itu. Sayangnya itu tidak berlaku pada Puji, sahabatku yang sedang aku bonceng di belakangku. Ia terus saja menanyakan berapa lama lagi sampai di tujuan. Dan berulang kali pula aku bilang nikmati saja dah sekeliling perjalanan kita ini. Mumpung ada dan bebas untuk dinikmati. Karena itu bukan pemandangan yang akan bisa dinikmati saat berangkat dan pulang kuliah. Am i right?

Apapun dan bagaimanapun teman di belakangku ini tidak menjadi masalah untukku menikmati seluruh rute yang aku jalankan. Aku lupa detail percakapan yang terjadi antar kami semua maka aku tidak akan mereka – reka bagaimana percakapan yang terjadi. Bisa kalian bayangkan betapa banyaknya cerita yang akan aku tulis jika aku menuliskan setiap detail yang aku alami. Harusnya aku punya dokumentasiku sendiri untuk bisa menuliskan detail itu. Aku menulis begini seakan aku sudah sering menulis cerita saja. Ok itu hanya intermezo, aku yakin kalian pasti penasaran dengan bagaimana cerita yang akan aku tulis selanjutnya.


Pemandangan yang aku lalui memikat hatiku meski aku hanya melewatinya sekelebat saja. Aku pernah melewati jalan menuju ke Tenggrong itu saat malam hari dan sudah tentu pada saat malam aku tidak bisa melihat hutan di kiri dan kanannya kecuali berwarna gelap seluruhnya. Dan kali ini aku bernar – benar takjub meski sepenuhnya perasaanku biasa saja saat melihatya tapi aku senang. Yang aku lihat adalah hamparan hutan yang masih luas. Jalanan yang sepi dan rapi. Hutan yang masih terhampar luas membentang hampir sepanjang perjalanan menuju ke Tenggarong. Aku masih mempertanyakan, itu hutan semua? Masha Allah. Allahuakbar. Itu benar – benar hutan dengan pohonnya yang banyak menjulang tinggi serta tanaman merambatnya yang menjalar sampai ke tiang – tiang listrik di atas jalanan. Can you imagine that? I hope.  –Bersambung-

Oleh Sanda Hakim Saputri. Mahasiswi Pendidikan Biologi, FKIP Unmul, Angkatan 2012.


Share this article :
 
Support : Dhompet Dhuafa | ETOS SAMARINDA | Hickmat Creative
Copyright © 2014. ETOS SAMARINDA - All Rights Reserved
Site Created by Hickmat Published by ETOSER SAMARINDA
Proudly powered by Blogger