“Assalamu’alaikum...”
Kami serombongan dari angkatan 2012 Etoser Samarinda
mengucap salam saat bertemu ibu Rafi’i di depan rumahnya. Rumah yang sederhana
sekali dan jauh dari bayangan sebelum aku sampai di sini. Seorang perempuan
yang postur badannya lebih kecil dari aku itu
adalah ibu dari saudara kami Rafi’i. Awalnya
dari kejauhan aku tidak percaya itu adalah ibunya. Begitu selalu kesan pertama
yang aku dapat saat bertemu dengan orang tua dari teman – temanku. Aku
membandingkan dengan orang tuaku. Secara fisik untuk yang pertama kalinya.
Orang tuaku tampak lebih muda dan lebih kuat
dibanding orang tua Rafi’i yang ku lihat saat itu. Tapi orang
tua Rafi’i bertahan dalam kebersamaan
dibanding orang tuaku saat ini. Kemudian
rasa tidak percayaku sirna tatkala aku memandang lekat – lekat sosok perempuan
ini. Dia mirip sekali dengan Rafi’i.
Sudah tentu ini memang ibunya dan tidak
ada perempuan lain yang ku temui
saat itu untuk kembali berprasangka bahwa perempuan yang tengah aku salami ini
bukan ibunya Rafi’i. Faktanya ini memang ibunya Rafi’i. Anak dan ibu yang mirip sekali.
-------------------------------------00--------------------------------------
Hampir pukul
6 pagi, pembinaan pagi asrama kami sudah hampir selesai. Sudah membaca Al Ma’surat
berjama’ah dan juga membaca buku wajib yang harus dibaca saat itu. Pukul 6 pagi
di asrama akhwat Pramuka 17 Beastudi Etos Samarinda, akrab disebut asrama Marwa, beberapa akhwat angkatan 2012 yang jumlahnya ada 5 orang dan dua
diantaranya yaitu aku dan Fauziah sudah
dengan kostum lengkap kami untuk
bepergian hari ini. Beberapa yang lain masih bersiap –
siap. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang akan aku siapkan kecuali roti dan
selai yang aku beli semalam untuk aku bawa hari ini. Apalagi teman – temanku yang lain, entahlah apa saja yang mereka siapkan untuk
hari ini.
Pagi itu
asrama kami disibukkan dengan persiapan 5 etoser akhwat angkatan
2012. Perlu kalian tahu
bahwa asrama kami ini berpenghuni 10 orang. 1
orang pendamping bernama mbak Jumi, 5 orang
etoser akhwat 2012 bernama: Sanda
–saya-, Fauziah, Arini, Puji,
dan Widya. 4 orang
etoser akhwat 2013 bernama: Maulid,
Yeni, Vega dan Ayu.
Kenapa semuanya akhwat yaaa? Itu karena di atas sudah dituliskan
bahwa ini adalah asrama akhwat (puteri) penerima manfaat Beastudi
Etos
wilayah Samarinda.
Aku
tidak akan menjelaskan panjang lebar isi dari asrama ini dan apa itu Beastudi
Etos. Karena ada cerita lain yang akan membahas
itu. Poin dari cerita kali ini
adalah perjalanan bagaimana saya dan teman – teman menyampaikan “Assalamu’alaikum....”
di atas. Ok back to story....
Akhwat sudah
siap. Lebih tepatnya aku sudah sangat siap.
Dengan jaket dan tas yang sudah aku isi dengan roti, selai, juga
dompet dan beberapa hal remeh lainnya
yang aku gak ingat itu apa saja. Tapi para
pangeran – ehm maksudnya Etoser ikhwan 2012 yang berjumlah 4 orang
– belum datang. Sambil menunggu mereka, aku pun sempat
menjemur seluruh pakaian yang sudah aku cuci kemarin. Tepat pada season terakhir aku menjemur pakaianku, mereka – para pengeran itu –
akhirnya datang bersamaan sebanyak 4 orang.
Intermezo sejenak, aku perkenalkan mereka adalah Donal,
Ajijul, Aldy dan Rafi’i.
Rafi’i adalah nama yang pertama kali aku sebut dalam cerita ini.
Ok lanjut.
Sampai dimana kita tadi? Oh ya sampai pada para pangeran
berdatangan. Setelah para pangeran datang sang koki kami Miss
Fauziah langsung
menyuguhkan
sarapan untuk kami makan sebelum keberangkatan. Hemmm… dalam hatiku berdebar, i said “ It’s
gonna be our first long trip”. Setelah dag dig dug sebentar berangkatlah kami. Just info, kami pergi bersembilan dengan kuota 4 ikhwan dan 5
akhwat. Formasi yang kami gunakan saat dalam perjalanan adalah 2, 2, 2, 1, 2.
Ok biarkan aku menjelaskan formasi yang mungkin kalian tidak begitu mengerti
ini. 2 yang pertama adalah 1 motor dengan penumpang Aldi
dan Rafi’i. 2 yang kedua adalah 1 motor
dengan penumpang Fauziah dan Arini.
2 yang ketiga adalah 1 motor dengan penumpang yaitu aku – Sanda- dan
Puji, 1 pada urutan keempat adalah 1 motor
dengan 1 penumpang yaitu Widya. Dan 2 yang terakhir adalah 1 motor
dengan penumpang Ajijul
dan Donal. See, betapa so sweetnya kami. 9 saudara kembar tapi tak mirip berjalan – jalan bersama. Saudara tua kami para
pangeran bersikap melindungi kami saudara termuda para akhwat dengan berada di
depan dan di belakang kami. Kami meluncur ke jalanan tanpa orang tua yang
membersamai. Amazing down trip. Tujuan
kami yang pertama adalah Desa Sebulu ke Rumah
rafi’i dan yang kedua adalah ke Musium
dan Planetarium di Tenggarong.
---------------------------------------------00-----------------------------------
Perjalanan
berlangsung biasa saja. Ini bukan pertama kalinya aku melewati jalanan ini
untuk pergi ke Tenggarong. Awalnya aku kira arah ke Sebulu
rumah Rafi’I sama
dengan Sebulu yang pernah aku tuju. Tapi
setelah melewati simpang yang dulu pernah aku lewati aku yakin aku belum pernah ke daerah Sebulu yang jadi
tujuan kami kali ini.
Meski biasa saja, tapi perjalanan saat itu sangat
aku nikmati. Bagiku, hal yang paling menarik dalam sebuah
perjalanan adalah bukan tujuan mana yang akan dituju tapi perjalanan itu
sendiri, sehingga selelah apapun dalam perjalanan aku menikmati perjalanan itu.
Sayangnya itu tidak berlaku pada Puji, sahabatku yang sedang
aku bonceng di belakangku. Ia terus saja menanyakan berapa lama lagi sampai di tujuan. Dan berulang kali pula
aku bilang nikmati saja dah sekeliling perjalanan kita ini. Mumpung ada dan bebas untuk dinikmati. Karena itu bukan pemandangan yang akan
bisa dinikmati saat berangkat dan pulang kuliah. Am i right?
Apapun
dan bagaimanapun teman di belakangku ini tidak menjadi masalah untukku
menikmati seluruh rute yang aku jalankan. Aku lupa detail percakapan yang terjadi
antar kami semua maka aku tidak akan mereka – reka bagaimana percakapan
yang terjadi. Bisa kalian bayangkan betapa banyaknya cerita yang akan aku tulis
jika aku menuliskan setiap detail yang aku alami. Harusnya aku punya
dokumentasiku sendiri untuk bisa menuliskan detail itu. Aku menulis begini
seakan aku sudah sering menulis cerita saja. Ok itu hanya intermezo, aku yakin
kalian pasti penasaran dengan bagaimana cerita yang akan aku tulis selanjutnya.
Pemandangan
yang aku lalui memikat hatiku meski aku hanya melewatinya sekelebat saja. Aku pernah melewati jalan menuju ke Tenggrong
itu saat malam hari dan sudah tentu pada saat malam aku tidak bisa melihat
hutan di kiri dan kanannya kecuali berwarna gelap seluruhnya. Dan kali ini aku
bernar – benar takjub meski sepenuhnya perasaanku biasa saja saat melihatya
tapi aku senang. Yang aku lihat adalah hamparan hutan yang masih luas. Jalanan
yang sepi dan rapi. Hutan yang masih terhampar luas membentang hampir sepanjang
perjalanan menuju ke Tenggarong. Aku masih mempertanyakan, itu
hutan semua? Masha Allah. Allahuakbar. Itu
benar – benar hutan dengan pohonnya yang banyak menjulang
tinggi
serta tanaman merambatnya yang menjalar sampai ke tiang – tiang listrik di atas
jalanan. Can you imagine that? I hope. –Bersambung-
Oleh Sanda
Hakim Saputri. Mahasiswi Pendidikan Biologi, FKIP Unmul, Angkatan 2012.



