Home » » Catatan Etoser: Bersyukur dan Berbagi

Catatan Etoser: Bersyukur dan Berbagi

Written By Unknown on Senin, 22 Oktober 2012 | 02.55

aksi sosial etoser Samarinda dengan anak jalanan 

Mungkin inilah tema yang saya ambil setelah menonton film yang berjudul SURAT CINTA UNTUK ETOSER NUSANTARA yang merupakan karya pendamping Etoser Malang.


Dalam surat tersebut beliau menceritakan bagaimana perjuangannya sebagai calon mahasiswa yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, berjuang untuk bisa kuliah dengan cara mengikuti tes masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi dalam keadaan sakit dan sebelumnya juga sudah mengikuti rangkaian tes Beastudi Etos. Dengan perjuangan yang panjang akhirnya beliau lulus di perguruan tinggi tersebut dan juga harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak lulus tes Beastudi Etos. Berulang-ulang ia menyakini dirinya bahwa ia bisa LULUS tetapi memang benar ia Tidak LULUS di Beastudi Etos.

Kuliah sudah didepan mata tapi bagaimana dengan biaya kuliah yang sangat mahal tersebut. Rangkaian panjang usaha yang ia lakukan akhirnya berbuah manis yaitu biaya kuliahnya menjadi nol rupiah. Tetapi belum cukup disitu karena ia harus bekerja sambil kuliah agar bisa membayar biaya kost dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Ia menggambarkan bagaimana kemudahan yang perlu disyukuri sebagai etoser, andai kata ia sebagai penerima beastudi etos ia tidak perlu menunggak pembayaran biaya kost karena sudah ada fasilitas asrama, atau ia tidak perlu kuliah sambil bekerja karena sudah mendapatkan uang saku tiap bulannya, dan diluar sana banyak sekali orang-orang yang sangat iri karena ingin juga merasakan menjadi penerima beastudi  etos. Singkat cerita, 5 tahun berlalu akhirnya ia lulus dari perguruan tinggi dan akhirnya menjadi pendamping Etoser Malang.

Kutipan cerita diatas mengigatkan saya dua tahun yang lalu, sebelum menjadi penerima manfaat dari beastudi etos. Dulu biasanya setiap bulan paling banyak saya mempunyai uang Rp 100.000,- yang harus digunakan untuk membeli lauk/sayur, untuk membeli pulsa, dan membeli kebutuhan lainnya. Jangankan untuk  membeli nasi bungkus untuk makan gorengan saja kadang harus ikut ta’lim di kampus yang harus dilalui dengan jalan kaki dan mendaki  gunung. Daya serap belajarku pun sangat memprihatinkan karena tidak seimbangnya antara energi yang tersedia dengan yang akan diserap.

Masih jelas dalam kasat mataku, bagaimana saya harus makan indomie satu bungkus yang harus bagi-bagi sehingga cukup dimakan untuk 2 hari. Hari-hari yang saya jalankan tidak seindah sewaktu SMA, dulu terkenal sangat ceria bahkan sedikit lebay, sedangkan saat itu saya lebih cenderung agak lemas dan sering mengantuk jika di kelas (Padahal tidur saya cukup). Alhamdulillah Allah itu sangat adil walaupun keadaankku demikian tapi nilai KHS ku tidak pernah lepas dari 3,50 keatas.

Dalam keadaan yang demikian bukan menjadi alasan bagiku untuk mengeluh atau mengadu kepada orang tua, atau bermalas-malasan. Saya menyakini Pertolonggan Allah itu pasti ada hanya saja waktunya yang belum tepat. Dan Allah pengen melihat sejauh apa ketabahan seorang hambanya.

Selain kuliah saya juga aktif di LD musholla fakultas dan saat itu harus menerima kenyataan, pemegang estafet musholla itu benar-benar diberikan kepada kami yang sama sekali belum magang dan ditinggalkan begitu saja dengan penggurus lama. Indahnya Tarbiyah, dukungan alumni serta ukhuwah sesama aktivislah yang mampu menguatkan saya dijalan Allah.

Dengan segala keterbatasan yang ada kami berupaya melaksanakan amanah tersebut, sudah hal yang biasa jika kami berjalan kaki malam-malam sepulangnya dari rapat atau ada agenda di kampus. Sadar atau tidak ternyata jalan yang saya tempuh tersebut merupakan hal yang membuka jalan Rezeki saya, dan menjawab atas kesabaran seorang hamba yang hanya bertugas sebagai Pemimpin di muka bumi dan menjadi hamba yang hanya beribadah kepadanya.

Sempat mendaftar beasiswa BUMN namun gagal yang akhirnya berlabuh di Beastudi Etos yang ternyata jauh lebih baik. Bagaimana tidak penerima beasiswa BUMN mengatakan dana beasiswanya sering tidak cair secara rutin. Saat ini pun aku mempunyai penghasilan dari les privat yang hasilnya lumayan menutupi kebutuhanku. Selain itu Allah juga menjawab do’a-do’a ku dari beberapa hal yang sangat saya butuhkan misalnya pakaian-pakaian syar’i, laptop, motor (Alhamdulillah motor kakak yang dipinjamkannya) dan bagi saya karunia dari Allah tersebut jawaban atas rasa syukur yang harus ditanamkan walaupun secara kasat mata dalam keadaan finansial yang terbatas. 

Karunia yang Allah berikan bukanlah menjadi ukuran berhentinya suatu perjuangan. Yang saya pahami adalah saat di Etos maupun di luar Etos saya harus tetap menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dengan identitas sebagai muslimah dan senantiasa menjadi orang-orang yang berbagi kebermanfaatan di mana pun posisi saya saat ini, esok, dan beberapa tahun kedepan. Berbagi kebermanfaatan bisa diukur dari beberapa sisi diantaranya akif dalam penelitian yang bisa menjadi solusi untuk negeri, aktif dalam organisasi yang mempunyai visi dan misi berbagi kebermanfaatan, membuka lapangan pekerjaan, atau agent of change ditempat tinggalku. Hal tersebutlah yang kini mulai saya lakukan. Mulai dari hal yang kecil, mulai hari ini dan sampai jiwa dan raga ini dipisahkan oleh kematian.

Oleh Hijriah, Etoser 2010 Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian UniversitasMulawarman

(maaf ada kesalahan dalm penulisan author ... dimaafkan yah.. )





Share this article :
 
Support : Dhompet Dhuafa | ETOS SAMARINDA | Hickmat Creative
Copyright © 2014. ETOS SAMARINDA - All Rights Reserved
Site Created by Hickmat Published by ETOSER SAMARINDA
Proudly powered by Blogger